Minggu, 08 Maret 2015

RUMAH KOS PERTAMA

Saat tahun pertama kuliah di kota lain yang jauh dari kampung halaman merupakan hal yang sangat menyedihkan. Berpisah dengan ayah, ibu, saudara, teman, tetangga, orang kampung, dan tak kalah ketinggalan binatang kesayangan, kucingku. Pertama tiba di kota Pekanbaru, aku tinggal di rumah sanak saudara yang tidak jauh dari kampus tempat aku melanjutkan pendidikan. Seiring berjalannya waktu, aku memutuskan untuk ngekos bergabung dengan teman-temanku. Aku bersama seorang teman yang juga berasal dari SMA yang sama denganku ngekos di kosnya kakak senior. Kakak senior di sana ada juga sebagian yang berasal dari SMA kami. Sehingga kami tidak terlalu kaku lagi untuk tinggal di sana.
Rumah kos tersebut tidak jauh dari fakultas yang aku ambil. Tepatnya kos itu terletak di belakang fakultas Ekonomi. Dan hanya membutuhkan beberapa menit saja dengan berjalan kaki menempuh perjalanan ke fakultasku yang berdampingan dengan fakultas Ekonomi tersebut.
Nama kos yang kami tempati adalah  kos 51 AY, bagaimana sejarah pemberian nama tersebut? Aku tidak mengetahuinya. Tidak seperti kos-kosan pada umumnya, kos kami tampak seperti rumah mewah. Yang dahulunya merupakan rumah pribadi, namun sekarang rumah itu sudah mengalami pengalihan fungsi menjadi kos-kosan.
Beberapa bulan aku berpisah dengan orang tua dan saudara-saudara di kampung membuat aku menyimpan sebuah perasaan. Yah, aku merindukan mereka. Sehingga ingin aku cepat-cepat pulang menemui mereka. Tibalah waktu yang dinantikan, aku pun pulang ke kampung halamanku. Aku pulang bukan karena tidak ada alasan kuat yang mengharuskan atau meliburkan aku akan kuliah. Ketika itu adalah liburan hari raya idul fitri, yah pastilah aku akan pulang. Bukan saja aku, semua teman di kos juga pulang tanpa ada yang setia untuk menjadi penunggu kos dengan tetap bertahan di sana.
Setelah beberapa minggu menghabiskan waktu di kampung, akhirnya aku berencana untuk kembali lagi ke Pekanbaru, ke kos ku. Aku berangkat ke sana pada hari minggu siang, karena sesuai dengan kalender perkuliahan, hari senin kuliah akan aktif kembali. Aku bukanlah tipe orang yang mau menambah-nambah libur, sehingga harus memboloskan kuliah. Aku selalu menta’ati peraturan yang telah ditetapkan. Meskipun, banyak ku dengar kabar yang mengatakan biasanya kalau hari pertama masuk kuliah setelah libur, tidak akan langsung kuliah atau proses belajar mengajar belum akan berlangsung, sehingga membuat sebagian orang akan menambah waktu libur mereka. Akan tetapi aku tidak begitu, aku akan tetap ke kampus, karena itu selalu yang ku terapkan dalam diri, mengikuti setiap peraturan dan menjalankannya dengan kedisiplinan. Dan aku pun mendapat kabar kalau teman-teman kos ku belum ke Pekanbaru. Dengan tetap berpegang pada prinsip, aku sudah bertekad bulat kembali ke kos.
Perjalanan menuju ke kota Bertuah memakan waktu lebih kurang sekitar 4 jam, hingga aku tiba di kos sekitar pukul 17.00 wib. Hujan ikut mengantarkan ku hingga ke kos. Setelah mobil yang ku tumpangi meninggalkanku seorang diri di tempat tujuanku, ku pandangi sekitar rumah, tampak begitu sepi dan sunyi. Deretan rumah yang terdiri dari kedai kecil yang jaraknya beberapa meter dari rumah kos juga tiada penghuni. Semuanya tidak tampak entah kemana. Sebagai manusia normal, ketakutan sedikit mulai menghampiriku. Namun akhirnya rasa itu dapat ku tepiskan, ku pun melangkahkan kaki sambil menjinjing barang bawaan masuk ke kos.
Setelah tiba di dalam rumah, ku pandangi rumah yang begitu besar dalam keadaan sunyi dan sedikit agak berdebu karena sudah beberapa minggu ditinggalkan. “Aku ingin melakukan sesuatu, aku ingin membuat semuanya beres”, bisikku saat itu. Membersihkan rumah? Oh no, bukan itu yang ingin aku lakukan, hal tersebut bisa dilakukan pada keesokan harinya. Tidak akan mungkin aku membersihkan rumah yang besar tersebut pada saat itu, karena sebentar lagi magrib dan malam akan menjelang. Setelah menghidupkan semua listrik yang ada di rumah kos, merapikan barang bawaanku, memanaskan gulai yang ku bawa dari kampung dan membawanya ke kamar. Pokoknya segala perlengkapan makan telah ku bawa ke kamar semua. Pintu rumah sudah dikunci semua. Aku pun ke kamar. Alhamdulillah kamar mandi ada di dalam kamar. Setelah membersihkan diri, aku pun sembari menunggu shalat magrib, usai shalat magrib, aku makan malam. Waktu terus berputar hingga azan isya berkumandang. Setelah shalat isya, dilanjutkan tilawah dan al-matsurat, aku pun memejamkan mata untuk bertemu dengan dunia mimpi alias tidur. Oh ya, ada yang ketinggalan, pada saat itu suasana hujan masih setia menemaniku, ditambah lagi tiba-tiba listrik mati pada saat itu. Membuat penderitaan dalam kesendirianku menjadi sempurna. Meskipun seperti itu, aku selalu yakin dan memohon kepada Allah agar aku dilindungi dari berbagai kejahatan. Setelah berdo’a, aku pun tidur malam, dan berharap esok aku tidak lagi sendiri di kos. Allah begitu melindungi diriku, dalam kesendirian di rumah yang begitu besar aku tidak mengalami kejadian apapun. Dari aku terlelap tidur hingga ku dibangunkan oleh azan subuh, aku tidak mengalami apapun. Aku tidak bermimpi, aku tidak terjaga tengah malam atau di waktu tertentu yang sering ku alami biasanya, seperti ingin ke kamar mandi atau sebagainya. Dan aku pun tidak mendengar suara apapun, suara binatang atau suara yang aneh-aneh. Ya pastilah, aku begitu lelap dalam tidur hingga azan subuh berkumandang yang membangunkanku di kala itu.
Keesokan harinya teman-temanku sudah kembali ke kos lagi.
Berjalannya waktu, desas desus perihal keadaan tentang kos kami pun mulai terdengar. Dari orang-orang yang tinggal lama di sana, maksudnya penghuni deretan rumah disertai kedai kecil yang jaraknya beberapa meter dari rumah kos kami. Mereka pun akhirnya menceritakan tentang kejadian yang pernah tampak di kos kami.
Menurut mereka rumah yang kami tempati sebagai kos itu sudah hampir lima tahun tidak dihuni. Kata mereka lagi, mereka pernah melihat ada seorang gadis mengenakan baju putih dan berambut panjang di rumah itu. Yah, kalau di film horror, seperti kuntilanak gitulah. Dan setiap malam tiba, orang yang melewati jalan yang tidak jauh dari kos kami, mereka melihat kos kami listriknya selalu dalam keadaan redup. Begitulah kabar yang kami dengar tentang kos kami. Dan Alhamdulillah kabar tersebut aku dengar ketika akhir-akhir aku mau pindah ke kos lain karena alasan tertentu.
Mendengar itu semua aku hanya senyum saja sembari mengingat dahulu aku pernah sendiri di rumah itu. sungguh tidak di duga, cerita tentang kos seperti itu, dan aku bersyukur sekali Allah menjagaku saat itu. Dan aku bersyukur juga cerita tentang kos baru ku dengar, setelah aku pernah sendiri di kos. Karena menurut analisisku, rasa ketakutan itu akan muncul saat kita mendengar cerita-cerita yang menakutkan. Misalnya, setelah kita mendengar cerita tentang angkernya sebuah rumah, pasti cerita tersebut akan melahirkan sebuah ilusi dalam pikiran kita, ilusi bahwa apa yang kita dengar tentang makhluk halus yang diceritakan itu seolah-olah memang ada di rumah itu. Dan ilusi itu yang selalu menghantui diri kita, dan membuat kita merasakan ketakutan. Coba saja cerita itu belum pernah kita dengar, pasti kita tidak akan takut. Seperti yang aku rasakan saat aku sendiri di kala itu, karena aku tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya, maka dalam pikiran tidak ada semacam ilusi atau imajinasi yang mengarahkan ke sana.
Dan saat cerita tentang rumah itu juga belum ku dengar, aku begitu beraninya seorang diri mencuci piring  pada malam hari sekitar jam 11 ke atas.
Sekarang aku lukiskan tentang rumah itu. Rumah yang menjadi tempat kos kami begitu besar, seperti yang telah aku jelaskan di atas. Sebelum kita menginjakkan kaki untuk masuk ke dalam rumah, kita akan temui teras rumah yang lumayan untuk duduk bersantai, ada ruang tamunya,,dan masuk lagi ke dalam lantai bawah kita temui ada lima kamar. Kamar pertama yang dekat dengan ruang tamu adalah kamarku. Diikuti dua kamar lagi yang sejajar posisinya dengan kamarku. Ketiga kamar tersebut mempunyai kamar mandi masing2 di dalam, kamar mandi seperti pada umumnya. Sedikit kita agak membelok dari kamar ketiga, kita dapati sebuah pintu untuk menuju keluar rumah. Sejajar denagn pintu itu, ada sebuah kamar (kamar keempat) yang tidak pernah dibuka pintunya, dan kami yakini itu adalah gudang. Di samping gudang ada kamar ke lima, kamar mandinya juga di dalam kamar, tapi kamar mandinya berbeda dengan kamar yang lainnya, kamar mandinya lebih mewah, ada bak besar di sana, seperti bak mandi yang bisa sambil tiduran, yah seperti itulah. Berbelok lagi akan kita temui tangga menuju atas, yah di atas ada sebuah kamar lagi. Karena di atas hanya ada satu kamar, kita kembali ke bawah lagi. Terus kita ke belakang akan kita dapati sebuah dapur, dapur ini kami gunakan untuk meletakkan semua peralatan masak memasak, setelah dapur terus ke belakang didapati sebuah ruangan yang cukup besar, sepertinya dahulu digunakan untuk garasi mobil. Di ruangan itu ada meja panjang, di sana kami meletakkan kompor untuk memasak. Depan garasi tentunya ada pintu untuk menuju ke luar rumah juga. Kembali kita ke garasi yang kami gunakan untuk memasak itu, terus ke belakang ada sebuah ruangan yang ada keran airnya, di sanalah kami mencuci piring, dan setelah itu tidak ada ruangan lagi. Akan tetapi, pernah suatu ketika aku dan teman2 penasaran di sebelah tempat cuci piring itu ada sebuah pintu, kami awalnya tidak mengetahui itu semua. Lalu kami pun memeriksa apakah ada kamar lagi di sana. Kami pun memeriksa hal itu dari luar sana, sekitar sana juga kami tahu ada sebuah sumur. Setelah mengintip dari luar ternyata di sana memang ada sebuah kamar. Kamarnya lebih kecil dibandingkan kamar2 lainnya, kami pun mengambil kesimpulan kalau kamar itu adalah kamar pembantu. Dahulu pemilik rumah mempunyai pembantu, jadi itu kamar pembantu rumah itu. Begitulah yang kami pikirkan.
Seperti yang telah saya tulis tadi, ketakutan akan datang jika kita telah mendengar cerita tentang hal yang membuat kita takut yang akan membuat sebuah ilusi dalam pikiran kita, setelah cerita itu kami dengar, jujur aku berkata ada sedikit rasa takut di hatiku. Makhlumlah, imanku belum seperti sahabat Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khattab ra. Yang mana mendengar suara sandal Umar saja, syetan sudah lari ketakutan.. dan aku tidak takut, karena selama ini aku belum pernah melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri. Sedangkan mendengar cerita saja, terkadang juga bisa menciutkan nyali dan menghilangkan keberanian.
Dalam masalah seperti ini, aku selalu berusaha menghadapinya dengan mengambil sikap tengah-tengah. Ada dua hal yang selalu aku tanamkan, yaitu aku harus bisa berada pada pertengahan dua sikap, yaitu tidak takut dan juga tidak takabur (merasa sok berani). Jadi, sikap tengah itu membuat aku santai, meskipun dalam hati ada sedikit ketakutan yang menghinggapi. Namanya juga manusia normal. Terkadang aku juga merasa heran kepada teman-teman yang tidak mempunyai pikiran seperti diriku, belum pernah bertemu dengan makhluk yang satu itu, mereka sudah takut duluan. Gimana kalau sudah ketemu, pasti mereka pingsan,,hehe, begitulah kata salah seorang teman yang merasa takut.
Yah, semestinya yang patut kita takuti itu adalah hanya Allah SWT, takut yang seharusnya timbul itu terhadap sesuatu yang tidak dapat dibatasi kekuasaannya, dan kekuasaan  yang tidak dapat dibatasi itu adalah Allah. Takut terhadap dosa, takut melakukan kemaksiatan. Yah, seharusnya takut seperti itu yang harus kita miliki. Semoga kita bisa menumbuhkan rasa takut seperti itu, amin….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar