Dalam kesendirian, ku
teringat banyak orang berkata bahwa sikap dan perilaku ku masih kayak
anak kecil…apa benar sich?? Contohnya saja ketika ku menampilkan PP
alias photo profil at my Fb gambar pink ranger,,,banyak yang mengatakan kayak anak kecil,,emang ranger itu
identik dengan anak kecil ya..? Memang sich kebanyakan penonton film
itu anak-anak,, tapi menurut ku menyukai itu tidak selamanya disamakan
dengan kebiasaan anak-anak..iya toh! Ku menyukainya karena aku ingin
sekali mempunyai kekuatan seperti ranger,,sehingga bisa melawan
dan melenyapkan orang jahat di muka bumi ini..he,,he,, tapi itu semua
hanyalah khayalan (kebanyakan nonton film gituan sich,,yang nggak nyata…
). Tanpa kekuatan ranger pun,,Insya Allah, bisa melawan yang
jahat-jahat,,,minimal berusaha melawan dan mengendalikan nafsu jahat
yang ada dalam diri ku sendiri..karena sesungguhnya musuh yang terbesar
itu adalah hawa nafsu… semuanya harus bermula dari my self ....keep spirit!!!
Kembali ke masalah semula…what problem?? Perasaan nggak ada masalah deh,,,nggak nyambung apa?
“udahlah
kak,,jangan kayak anak kecil..umur kakak kan lebih dewasa dari pada
saya…” itu yang pernah dikatakan oleh seseorang (tidak usah disebutkan
namanya,,ntar gosip...he.he)
Kata-kata itu masih
terngiang-ngiang,, sebenarnya apa yang kayak anak kecil? Dia aja yang
sok dewasa..menyebalkan!! (itu yang terpikir, ketika keegoisan berkuasa
pada diri ini)… tetapi setelah direnungkan..maybe,,tanpa ku sadari ada perilaku ku yang menurut orang lain itu adalah perilaku anak-anak..
Ku mulai sadar ketika membaca beberapa tip n trik menjadi pemenang.
Salah satunya adalah menerima kritik dengan lapang dada…. Pemenang
adalah seorang yang bisa melihat arti sebuah kritik. Kritik seperti
obat, walaupun pahit ia berfungsi menyembuhkan. Saat kamu dikritik,
jangan marah, tetapi dengarkanlah. Jika kritik itu benar, terimalah dan
berterimakasihlah kepada sang pengkritik. Tetapi jika kritik itu tidak
benar, simpan dan jadikan sebagai bahan untuk berhati-hati dan cermin
diri.
Rasulullah saw. berkata: Al mukminu mir’atu mu’min. Apabila melihat aib ada padanya, dia segera memperbaikinya. (HR. Al-Bukhari)
Jadi, sang pemenang selalu arif, bijaksana dan selalu melihat sisi baik dari kritik sekalipun.
Okey!! Sudah saatnya belajar bersikap lebih dewasa…J
Minggu, 15 Maret 2015
Minggu, 08 Maret 2015
RUMAH KOS PERTAMA
Saat tahun pertama
kuliah di kota lain yang jauh dari kampung halaman merupakan hal yang sangat
menyedihkan. Berpisah dengan ayah, ibu, saudara, teman, tetangga, orang
kampung, dan tak kalah ketinggalan binatang kesayangan, kucingku. Pertama tiba
di kota Pekanbaru, aku tinggal di rumah sanak saudara yang tidak jauh dari
kampus tempat aku melanjutkan pendidikan. Seiring berjalannya waktu, aku
memutuskan untuk ngekos bergabung dengan teman-temanku. Aku bersama seorang
teman yang juga berasal dari SMA yang sama denganku ngekos di kosnya kakak
senior. Kakak senior di sana ada juga sebagian yang berasal dari SMA kami.
Sehingga kami tidak terlalu kaku lagi untuk tinggal di sana.
Rumah kos tersebut
tidak jauh dari fakultas yang aku ambil. Tepatnya kos itu terletak di belakang
fakultas Ekonomi. Dan hanya membutuhkan beberapa menit saja dengan berjalan
kaki menempuh perjalanan ke fakultasku yang berdampingan dengan fakultas
Ekonomi tersebut.
Nama kos yang kami
tempati adalah kos 51 AY, bagaimana sejarah pemberian nama tersebut? Aku tidak
mengetahuinya. Tidak seperti kos-kosan pada umumnya, kos kami tampak seperti
rumah mewah. Yang dahulunya merupakan rumah pribadi, namun sekarang rumah itu
sudah mengalami pengalihan fungsi menjadi kos-kosan.
Beberapa bulan aku
berpisah dengan orang tua dan saudara-saudara di kampung membuat aku menyimpan
sebuah perasaan. Yah, aku merindukan mereka. Sehingga ingin aku cepat-cepat
pulang menemui mereka. Tibalah waktu yang dinantikan, aku pun pulang ke kampung
halamanku. Aku pulang bukan karena tidak ada alasan kuat yang mengharuskan atau
meliburkan aku akan kuliah. Ketika itu adalah liburan hari raya idul fitri, yah
pastilah aku akan pulang. Bukan saja aku, semua teman di kos juga pulang tanpa
ada yang setia untuk menjadi penunggu kos dengan tetap bertahan di sana.
Setelah beberapa minggu
menghabiskan waktu di kampung, akhirnya aku berencana untuk kembali lagi ke
Pekanbaru, ke kos ku. Aku berangkat ke sana pada hari minggu siang, karena sesuai
dengan kalender perkuliahan, hari senin kuliah akan aktif kembali. Aku bukanlah
tipe orang yang mau menambah-nambah libur, sehingga harus memboloskan kuliah.
Aku selalu menta’ati peraturan yang telah ditetapkan. Meskipun, banyak ku dengar
kabar yang mengatakan biasanya kalau hari pertama masuk kuliah setelah libur,
tidak akan langsung kuliah atau proses belajar mengajar belum akan berlangsung,
sehingga membuat sebagian orang akan menambah waktu libur mereka. Akan tetapi
aku tidak begitu, aku akan tetap ke kampus, karena itu selalu yang ku terapkan
dalam diri, mengikuti setiap peraturan dan menjalankannya dengan kedisiplinan.
Dan aku pun mendapat kabar kalau teman-teman kos ku belum ke Pekanbaru. Dengan
tetap berpegang pada prinsip, aku sudah bertekad bulat kembali ke kos.
Perjalanan menuju ke
kota Bertuah memakan waktu lebih kurang sekitar 4 jam, hingga aku tiba di kos
sekitar pukul 17.00 wib. Hujan ikut mengantarkan ku hingga ke kos. Setelah
mobil yang ku tumpangi meninggalkanku seorang diri di tempat tujuanku, ku
pandangi sekitar rumah, tampak begitu sepi dan sunyi. Deretan rumah yang
terdiri dari kedai kecil yang jaraknya beberapa meter dari rumah kos juga tiada
penghuni. Semuanya tidak tampak entah kemana. Sebagai manusia normal, ketakutan
sedikit mulai menghampiriku. Namun akhirnya rasa itu dapat ku tepiskan, ku pun
melangkahkan kaki sambil menjinjing barang bawaan masuk ke kos.
Setelah tiba di dalam
rumah, ku pandangi rumah yang begitu besar dalam keadaan sunyi dan sedikit agak
berdebu karena sudah beberapa minggu ditinggalkan. “Aku ingin melakukan
sesuatu, aku ingin membuat semuanya beres”, bisikku saat itu. Membersihkan
rumah? Oh no, bukan itu yang ingin
aku lakukan, hal tersebut bisa dilakukan pada keesokan harinya. Tidak akan
mungkin aku membersihkan rumah yang besar tersebut pada saat itu, karena
sebentar lagi magrib dan malam akan menjelang. Setelah menghidupkan semua
listrik yang ada di rumah kos, merapikan barang bawaanku, memanaskan gulai yang
ku bawa dari kampung dan membawanya ke kamar. Pokoknya segala perlengkapan
makan telah ku bawa ke kamar semua. Pintu rumah sudah dikunci semua. Aku pun ke
kamar. Alhamdulillah kamar mandi ada di dalam kamar. Setelah membersihkan diri,
aku pun sembari menunggu shalat magrib, usai shalat magrib, aku makan malam.
Waktu terus berputar hingga azan isya berkumandang. Setelah shalat isya,
dilanjutkan tilawah dan al-matsurat, aku pun memejamkan mata untuk bertemu
dengan dunia mimpi alias tidur. Oh ya, ada yang ketinggalan, pada saat itu
suasana hujan masih setia menemaniku, ditambah lagi tiba-tiba listrik mati pada
saat itu. Membuat penderitaan dalam kesendirianku menjadi sempurna. Meskipun
seperti itu, aku selalu yakin dan memohon kepada Allah agar aku dilindungi dari
berbagai kejahatan. Setelah berdo’a, aku pun tidur malam, dan berharap esok aku
tidak lagi sendiri di kos. Allah begitu melindungi diriku, dalam kesendirian di
rumah yang begitu besar aku tidak mengalami kejadian apapun. Dari aku terlelap
tidur hingga ku dibangunkan oleh azan subuh, aku tidak mengalami apapun. Aku
tidak bermimpi, aku tidak terjaga tengah malam atau di waktu tertentu yang
sering ku alami biasanya, seperti ingin ke kamar mandi atau sebagainya. Dan aku
pun tidak mendengar suara apapun, suara binatang atau suara yang aneh-aneh. Ya
pastilah, aku begitu lelap dalam tidur hingga azan subuh berkumandang yang
membangunkanku di kala itu.
Keesokan harinya
teman-temanku sudah kembali ke kos lagi.
Berjalannya waktu,
desas desus perihal keadaan tentang kos kami pun mulai terdengar. Dari
orang-orang yang tinggal lama di sana, maksudnya penghuni deretan rumah
disertai kedai kecil yang jaraknya beberapa meter dari rumah kos kami. Mereka
pun akhirnya menceritakan tentang kejadian yang pernah tampak di kos kami.
Menurut mereka rumah
yang kami tempati sebagai kos itu sudah hampir lima tahun tidak dihuni. Kata
mereka lagi, mereka pernah melihat ada seorang gadis mengenakan baju putih dan
berambut panjang di rumah itu. Yah, kalau di film horror, seperti kuntilanak gitulah. Dan setiap malam tiba,
orang yang melewati jalan yang tidak jauh dari kos kami, mereka melihat kos
kami listriknya selalu dalam keadaan redup. Begitulah kabar yang kami dengar
tentang kos kami. Dan Alhamdulillah kabar tersebut aku dengar ketika akhir-akhir
aku mau pindah ke kos lain karena alasan tertentu.
Mendengar itu semua aku
hanya senyum saja sembari mengingat dahulu aku pernah sendiri di rumah itu.
sungguh tidak di duga, cerita tentang kos seperti itu, dan aku bersyukur sekali
Allah menjagaku saat itu. Dan aku bersyukur juga cerita tentang kos baru ku
dengar, setelah aku pernah sendiri di kos. Karena menurut analisisku, rasa
ketakutan itu akan muncul saat kita mendengar cerita-cerita yang menakutkan.
Misalnya, setelah kita mendengar cerita tentang angkernya sebuah rumah, pasti
cerita tersebut akan melahirkan sebuah ilusi dalam pikiran kita, ilusi bahwa
apa yang kita dengar tentang makhluk halus yang diceritakan itu seolah-olah
memang ada di rumah itu. Dan ilusi itu yang selalu menghantui diri kita, dan
membuat kita merasakan ketakutan. Coba saja cerita itu belum pernah kita
dengar, pasti kita tidak akan takut. Seperti yang aku rasakan saat aku sendiri
di kala itu, karena aku tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya, maka
dalam pikiran tidak ada semacam ilusi atau imajinasi yang mengarahkan ke sana.
Dan saat cerita tentang
rumah itu juga belum ku dengar, aku begitu beraninya seorang diri mencuci
piring pada malam hari sekitar jam 11 ke
atas.
Sekarang aku lukiskan
tentang rumah itu. Rumah yang menjadi tempat kos kami begitu besar, seperti
yang telah aku jelaskan di atas. Sebelum kita menginjakkan kaki untuk masuk ke
dalam rumah, kita akan temui teras rumah yang lumayan untuk duduk bersantai,
ada ruang tamunya,,dan masuk lagi ke dalam lantai bawah kita temui ada lima
kamar. Kamar pertama yang dekat dengan ruang tamu adalah kamarku. Diikuti dua
kamar lagi yang sejajar posisinya dengan kamarku. Ketiga kamar tersebut
mempunyai kamar mandi masing2 di dalam, kamar mandi seperti pada umumnya. Sedikit
kita agak membelok dari kamar ketiga, kita dapati sebuah pintu untuk menuju
keluar rumah. Sejajar denagn pintu itu, ada sebuah kamar (kamar keempat) yang
tidak pernah dibuka pintunya, dan kami yakini itu adalah gudang. Di samping
gudang ada kamar ke lima, kamar mandinya juga di dalam kamar, tapi kamar
mandinya berbeda dengan kamar yang lainnya, kamar mandinya lebih mewah, ada bak
besar di sana, seperti bak mandi yang bisa sambil tiduran, yah seperti itulah. Berbelok
lagi akan kita temui tangga menuju atas, yah di atas ada sebuah kamar lagi.
Karena di atas hanya ada satu kamar, kita kembali ke bawah lagi. Terus kita ke
belakang akan kita dapati sebuah dapur, dapur ini kami gunakan untuk meletakkan
semua peralatan masak memasak, setelah dapur terus ke belakang didapati sebuah
ruangan yang cukup besar, sepertinya dahulu digunakan untuk garasi mobil. Di
ruangan itu ada meja panjang, di sana kami meletakkan kompor untuk memasak.
Depan garasi tentunya ada pintu untuk menuju ke luar rumah juga. Kembali kita
ke garasi yang kami gunakan untuk memasak itu, terus ke belakang ada sebuah
ruangan yang ada keran airnya, di sanalah kami mencuci piring, dan setelah itu
tidak ada ruangan lagi. Akan tetapi, pernah suatu ketika aku dan teman2
penasaran di sebelah tempat cuci piring itu ada sebuah pintu, kami awalnya
tidak mengetahui itu semua. Lalu kami pun memeriksa apakah ada kamar lagi di
sana. Kami pun memeriksa hal itu dari luar sana, sekitar sana juga kami tahu
ada sebuah sumur. Setelah mengintip dari luar ternyata di sana memang ada sebuah
kamar. Kamarnya lebih kecil dibandingkan kamar2 lainnya, kami pun mengambil
kesimpulan kalau kamar itu adalah kamar pembantu. Dahulu pemilik rumah
mempunyai pembantu, jadi itu kamar pembantu rumah itu. Begitulah yang kami
pikirkan.
Seperti yang telah saya
tulis tadi, ketakutan akan datang jika kita telah mendengar cerita tentang hal
yang membuat kita takut yang akan membuat sebuah ilusi dalam pikiran kita,
setelah cerita itu kami dengar, jujur aku berkata ada sedikit rasa takut di hatiku.
Makhlumlah, imanku belum seperti sahabat Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khattab
ra. Yang mana mendengar suara sandal Umar saja, syetan sudah lari ketakutan..
dan aku tidak takut, karena selama ini aku belum pernah melihatnya langsung
dengan mata kepala sendiri. Sedangkan mendengar cerita saja, terkadang juga
bisa menciutkan nyali dan menghilangkan keberanian.
Dalam masalah seperti
ini, aku selalu berusaha menghadapinya dengan mengambil sikap tengah-tengah.
Ada dua hal yang selalu aku tanamkan, yaitu aku harus bisa berada pada
pertengahan dua sikap, yaitu tidak takut dan juga tidak takabur (merasa sok
berani). Jadi, sikap tengah itu membuat aku santai, meskipun dalam hati ada
sedikit ketakutan yang menghinggapi. Namanya juga manusia normal. Terkadang aku
juga merasa heran kepada teman-teman yang tidak mempunyai pikiran seperti
diriku, belum pernah bertemu dengan makhluk yang satu itu, mereka sudah takut
duluan. Gimana kalau sudah ketemu, pasti mereka pingsan,,hehe, begitulah kata
salah seorang teman yang merasa takut.
Yah, semestinya yang
patut kita takuti itu adalah hanya Allah SWT, takut yang seharusnya timbul itu
terhadap sesuatu yang tidak dapat dibatasi kekuasaannya, dan kekuasaan yang tidak dapat dibatasi itu adalah Allah. Takut
terhadap dosa, takut melakukan kemaksiatan. Yah, seharusnya takut seperti itu
yang harus kita miliki. Semoga kita bisa menumbuhkan rasa takut seperti itu,
amin….
MENJADI TANDA TANYA
Di kompleks perumahan saya sekarang
berdomisili mempunyai sistem pengingat waktu dengan lonceng. Maksudnya, ketika
waktu menunjukkan pukul 1 siang, lonceng akan berbunyi sebanyak satu kali,
begitu juga kalau pukul dua, lonceng berbunyi sebanyak dua kali, dan seterusnya.
Pada saat itu, bukan saja bunyi lonceng yang terdengar, namun diikuti oleh
suara lolongan anjing. Setelah saya perhatikan selama ini, suara lolongan
anjing yang terdengar tidak setiap 1 jam sekali lonceng berbunyi. Akan tetapi,
suara lolongan anjing ikut serta pada saat bunyi lonceng diiringi dengan
terdengarnya bunyi musik (seperti bunyi terompet atau suara musik angkatan
/militer) yang disertai dengan kalimat “Saatnya Hormat Bendera” atau kalimat
lainnya. Dan itu terdengar pada pukul enam pagi dan pukul sepuluh malam
serta pukul lainnya yang menyertai bunyi musik tadi. Hal ini membuat tanda
tanya di benak saya, ada apakah gerangan? Kenapa anjing-anjing itu mengeluarkan
lolongannya? Pikiran saya mencoba untuk menjawab sendiri pertanyaan yang telah
menghiasi pikiran. Jawaban yang dihasilkan oleh pikiran saya yaitu mungkin
anjing-anjing tersebut terinspirasi untuk meniru dan mengikuti bunyi musik yang
mereka dengar. Ah kalau dipikir-pikir ini bukanlah sebuah jawaban yang
diharapkan. meskipun begitu, saya bersyukur pikiran mengarahkan saya untuk
berpikir positif. Saya tidak terlalu lama berpikir ke arah yang berhubungan
dengan dunia mistik, dan saya sendiri pun tidak mau berpikir ke arah sana.
Kejadian
ini mengingatkan saya akan memori masa lalu, tepatnya pada saat saya masih SMA.
Pada saat itu, my father memelihara dua
ekor anjing. Kedua anjing ini tidak dibiarkan bebas, mereka diikat. Dan
fenomena yang terjadi pada saat itu tidak jauh berbeda dengan yang saya dengar
sekarang. Kedua anjing tersebut mengeluarkan lolongannya pada saat terdengar
suara adzan subuh dari mesjid yang tidak jauh dari rumah. Mereka mengeluarkan
lolongan hanya pada saat adzan subuh saja, dan tidak berlaku pada waktu-waktu
adzan yang lainnya. Suara lolongan yang terdengar begitu mengharukan, kalau
dihayati seperti suara tangisan yang menyanyatkan hati. Dan ketika itu,
pertanyaan: ada apakah gerangan? Kenapa anjing-anjing itu mengeluarkan
lolongannya? Muncul dipikiran. Ada anggota keluarga yang mengatakan: mungkin
pada saat terdengar adzan subuh, syetan-syetan (yang disangkut pautkan dengan
keluarga anjing atau temannya) pergi atau kabur dan anjing-anjing tersebut
sedih, akhirnya mereka mengeluarkan lolongan seperti itu. Begitulah jawaban
yang saya dapatkan. Ah apa iya begitu? Entahlah, lama-lama saya perhatikan,
irama lolongan anjingnya mengikuti irama muadzin (orang yang adzan). Panjang
pendek adzan yang terdengar mempengaruhi irama lolongan anjing-anjing tersebut.
Semakin panjang adzan yang dibawa muadzin, semakin panjang pula lolongan yang
terdengar dan begitu juga sebaliknya.
Sampai
saat ini saya masih belum tahu apa jawaban yang sebenarnya dengan kejadian
tersebut. Apa ada hubungannya dengan hal gaib? Sungguh saya tidak tahu. Dan
sekarang yang menjadi pertanyaan lain adalah apakah hal ini perlu saya pikirkan
dan pertanyakan? Apakah ini penting untuk saya ketahui? Entahlah, pikiran saya
terlalu banyak memuat berbagai hal yang menuntut untuk dipikirkan dan
dipertanyakan. Ia selalu berpikir, berpikir dan berpikir..yang terkadang
membuat sakit kepala..heee...
Langganan:
Postingan (Atom)